Animasi Logo NU

  • Terkini!

      December 3, 2015

      Materi Seminar Nasional KMNU UNDIP





      KELUARGA DIPONEGORO
      Pangeran Diponegoro  dengan delapan wanita. Banyak buku yang menyebutkan jumlah isteri Pangeran Diponegoro ada tiga, empat atau tujuh. Penulis memahami penyebutan jumlah yang berbeda-beda tersebut. Ada banyak alasan atau penyebab yang memungkinkan kaburnya jumlah yang sebenarnya.
      Pertama, penjajah yang pada saat itu sengaja mengaburkannya agar hubungan kekerabatan antara keturunan yang satu dengan yang lain terputus dengan harapan kecil kemungkinan mereka bersekutu.
      Kedua, hubungan kekeluargaan Pangeran Diponegoro dengan istana sudah tidak harmonis sejak awal. Bahkan ketika Pangeran Diponegoro keluar dari puri Tegalrejo untuk melaksanakan perang dan mengangkat dirinya sebagai seorang Sultan di Dekso, dia dianggap sebagai orang yang melakukan makar baik oleh kerajaan Jogja maupun kerajaan Surakarta. Kerajaan Surakarta ikut tidak menyetujui pengangkatan itu karena Pangeran Diponegoro mengklaim tanah di wilayah Bagelen menjadi wilayah kekuasaannya. Hubungan yang tidak bagus itu menyebabkan kalangan istana memutuskan pula hubungan administrasi yang berkaitan dengan kekeluargaan.
      Ketiga, memang merupakan strategi Pangeran Diponegoro untuk menyembunyikan identitas keluarganya agar tidak menjadi sasaran penjajah. Kehidupan Pangeran Diponegoro selepas dari puri Tegalrejo bagaikan daun yang tertiup angin, tidak pernah menetap di suatu lokasi berlama-lama. Hal ini mengakibatkan tidak mungkin selalu membawa serta anak-anak dan isteri-isterinya dalam medan perang. Cara yang paling baik adalah menitipkan isteri-isteri dan anak-anaknya kepada keluarga mertua atau dititipkan pada para sahabatnya atau meninggalkannya di masrkas prajurit. Ketika dalam penitipan itu tentunya ada semacam kekawatiran, sehingga mereka kadang harus berganti identitas.
       Jumlah delapan isteri yang tertulis dibuku ini berdasarkan sumber buku-buku yang penulis baca di tambah dengan pengakuan keturunan Pangeran Diponegoro yang telah memiliki kekancingan silsilah dari Kraton Yogyakarta. Begitu juga jumlah putera beliau yang 22 orang berdasarkan literatur yang ada ditambah dengan silsilah yang ada di Tepas Darah Dalem Kraton Yogyakarta.
       Pernikahan Pangeran Diponegoro yang pertama terjadi ketika beliau masih di puri Tegalrejo yaitu pada tahun 1803 menikah dengan Raden Ayu Retno Madubrongto puteri kedua Kyai Gedhe Dadapan di Tempel Sleman dekat perbatasan Kedu dengan Jogjakarta. Kyai Gede Dadapan adalah seorang kepala wilayah di Pathok Nagari  (Batas Wilayah), sekaligus sebagai pengikut setia keluarga Sultan. Sebelumnya dia juga pernah menjadi salah satu pengasuh Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Dia sering berkunjung dan menginap di lingkungan Puri Tegalrejo untuk menjalankan tugasnya mengantar kebutuhan Ratu Ageng. Pada saat itulah dia sering ikut mengasuh Pangeran Diponegoro kecil yang masih bernama Ontowiryo. Dia juga yang sering membacakan kitab-kitab keagamaan untuk Ontowiryo. Setelah Ontowiryo menjadi santri di Mlangi di wilayahnya, dia juga yang bertugas mengurus segala kebutuhan selama mondok sebagai santri.
      Kedekatan hubungan inilah yang akhirnya mengantar puterinya menjadi wanita pilihan Raden Mas Ontowiryo untuk menjadi pendamping hidup. Raden Ayu Retno Madubrongto adalah seorang wanita yang solehah dan sangat memahami jalan pikiran dan jalan hidup suaminya. Dia tidak pernah mengeluh walaupun sering ditinggalkan suaminya berkelana, bertapa untuk mencari makna sejati kehidupan. Bahkan diapun tidak pernah bertanya mengapa bukan dirinya yang diangkat sebagai isteri permaisuri oleh suaminya. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang keturunan Pangeran Diponegoro yaitu  Raden Mas Ontowiryo II dan Raden Mas Dipoatmojo. Raden Ayu Retno Madubrongto wafat sebelum penyerbuan Belanda ke Tegalrejo. Tahun pastinya tidak diketahui tetapi beliau wafat sekitar tahun 1814.
      Tanggal 25 Pebruari 1807 menikah untuk kedua kalinya dengan Raden Ajeng Supadmi yang kemudian diberi nama R.A. Retnakusuma, putri  Raden Tumenggung  Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang. Pernikahan ini atas kehendak Sri Sultan Hamengkubuwono III . Dari pernikahan ini lahir Raden Suryoatmojo dan Raden Ayu Joyokusumo. Pada saat Pangeran Diponegoro memutuskan untuk tidak mau lagi menjadi wali bagi Sri Sultan ke V dan kembali ke Puri Tegalrejo, Retnokusumo memilih tinggal di istana karena sudah terlanjur menikmati kehidupan gaya istana sejak sebelum menjadi isteri Pangeran Diponegoro.
      Tahun 1808  menikah yang ketiga dengan R.A. Retnodewati seorang putri Kyai Guru Kasongan dan mempunyai dua orang puteri yang diberi nama Raden Ajeng Impun yang kelak dikenal dengan nama Raden Ayu Basah dan Raden Ayu Munteng atau Raden Ayu Gusti. Pernikahan ini terjadi setelah Pangeran Diponegoro bertapa di Pantai Selatan dan merasa bertemu dengan Nyai Roro Kidul penguasa pantai selatan. Maka kemudian isterinya diberi nama Retnodewati yang menurut mitos menjadi nama lain Nyai Roro Kidul sebelum dia menjadi penguasa laut Selatan. R.A Retnodewati meninggal hampir bersamaan dengan R.A Retno Madubrongto.
      Dua tahun kemudian di awal tahun 1810 Pangeran Diponegoro melakukan perjalanan ke wilayah timur dan menikah untuk yang keempat dengan Raden Ayu Citrowati, puteri Raden Tumenggung Ronggo Parwirosentiko dengan salah satu isteri selir.  Tidak lama setelah melahirkan anaknya Raden Ayu Citrowati meninggal dalam kerusuhan di Madiun. Bayi yang baru saja dilahirkan kemudian dibawa oleh Ki Tembi seorang sahabat Pangeran Diponegoro. Oleh Pangeran Diponegoro bayi tersebut diserahkan kepada Ki Tembi untuk diasuh. Dan diberi nama singlon yang artinya adalah nama samaran sehingga bayi tersebut terkenal dengan nama Raden Mas Singlon.
      Setelah geger Madiun reda di tahun 1814 untuk yang ke lima kalinya Pangeran Diponegoro menikah dengan R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi R.A Maduretno saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Tahun 1826 ketika Pangeran Diponegoro diangkat menjadi Sultan di Dekso, R.A Maduretno diangkat menjadi permaisuri. Namun karena sakit beliau meninggal pada tahun 1828. Dari pernikahan ini lahirlah Raden Mas Joned pada tahun 1815 Dan Raden Mas Roub tahun 1816 . Raden Ayu Maduretno juga dikenal dengan Raden Ayu Ontowiryo atau Raden Ayu Diponegoro. Ketika menikah dengan R. A Maduretno, isteri pertama dan keempat sudah meninggal, sedangkan isteri kedua lebih senang tinggal diistana sehingga terjadilah hubungan yang tidak harmonis antara P. Diponegoro dengan RA. Retnokusumo.
      Hubungan Pangeran Diponegoro dengan keluarga besar Raden Ronggo semakin ditingkatkan untuk menambah kekuatan dan kedudukan kasultanan Jogja di mata penjajah.Maka pada tahun 1822 beliau menikah yang keenam dengan R.A. Retnaningsih, putri Raden Tumenggung Sumoprawiro, bupati Jipang Kepadhangan. Kelak R.A Retnaningsih inilah yang mengikuti Pangeran Diponegoro dalam pengasingan. Dari Raden Ayu Ratnaningsih ini lahirlah beberapa putera yaitu : Raden Mas Kindar (1832), Raden Mas Sarkuma (1834), Raden Mas Mutawaridin (1835), Raden Ayu Putri Munadima (1836), Raden Mas Dulkabli (1836), Raden Mas Rajab (1837) dan Raden Mas Ramaji (1838) dan Raden Ayu Padmodipuro yang kemudian diselundupkan ke jawa dan hidup di wilayah Clereng Kabupaten Kulon Progo.
       Pada tahun 1825 ketika perang dimulai Pangeran Diponegoro menikah untuk yang ke tujuh dengan R.A. Retnakumala, putri Kyahi dari wilayah Selatan Jogja. Pernikahan ini jelas semakin memperkuat dukungan kalangan kyai dan santri kepada perjuangan beliau melawan penjajah. Dari pernikahan ini lahir tiga orang puteri yaitu Raden Ayu Herjuminten, Raden Ayu Herjumerut dan Raden Ayu Hangreni. Selain pangeran Diponegoro pernah menjadi santri di pondok pesantren di Kasongan, Kyai guru Kasongan inilah yang menjadi pelindung dan penjamin suplai kebutuhan pokok pangeran ketika ada di Gua Selarong.
      Tahun 1828 setelah Raden Ayu Maduretno meninggal, Pangeran Diponegoro menikahi R.A. Retnaningrum, putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II dan mempunyai  tiga  puteri  yaitu  Raden Ayu Mangkukusumo  dan Raden Ayu Poncokusumo. Pernikahan ini adalah permintaan R.A Maduretno ketika beliau dalam keadaan sakit keras dan akhirnya meninggal.
                   Raden Ayu Retnaningrum sempat ikut Pangeran Diponegoro dalam perjalanan dari Magelang, Ungaran dan sampai ke Semarang. Namun karena sakit atas kehendak Pangeran Diponegoro, dia diminta kembali ke Yogyakarta pada tgl. 5 April 1830.
      Sampai akhirnya Pangeran Diponegoro ditawan dan dibuang ke pengasingan tercatat masih memiliki empat isteri yaitu RA. Retnadewati, R.A Ratnaningsih, R.A Retnokumolo dan R.A Retnaningrum. Hanya R.A Ratnaningsih yang akhirnya mengikuti Pangeran Diponegoro dalam pembuangan. 
      Untuk menghindari lahirnya pemberontak-pemberontak baru keturunan Pangeran Diponegoro, pihak keraton menikahkan puteri-puteri Pangeran Diponegoro dengan pejabat-pejabat yang netral atau dengan pejabat yang pro Belanda. Untuk itu mereka dinikahkan dengan pejabat-pejabat di wilayah kekuasaan trah Danurejan yaitu di tanah kedu dan Bagelen. Trah Danurejan adalah trah yang terbukti setia kepada Belanda walaupun ada juga beberapa yang justru menjadi tulang punggung perjuangan Pangeran Diponegoro.
      Dalam pembuangan ke Manado lalu ke Makassar, Pangeran Diponegoro disertai dengan seorang isterinya yaitu R.A Ratnaningsih. Dalam catatan penumpang kapal Pollux jelas sekali tidak ada satupun anak Pangeran Diponegoro yang ikut, begitu juga dengan isteri-isteri yang lain. Hal ini jelas menggambarkan bahwa anak-anak P. Diponegoro tidak ada yang ada di Makasar kecuali yang lahir di Manado atau Makassar.
      Dapat disimpulkan juga bahwa putera-puteri Pangeran Diponegoro nomer 13 sampai 20 yang dilahirkan setelah dalam pembuangan di Manado dan Makassar adalah lahir dari ibu Ratnaningsih, yang jumlahnya ada 8 orang.
      Di mata para keturunan, Pangeran Diponegoro adalah sosok yang sangat memberi inspirasi dan meninggalkan warisan idiologi yang layak untuk di sebarkan sebagai virus kebaikan. Di mata keluarga, Pangeran Diponegoro adalah sosok yang Jujur, Tegas, berani dan Bijaksana.
      Kejujuran beliau sangatlah sederhana, yaitu kesamaan ucapan dengan hati. Apa yang ada di benak beliau, itulah yang terucap dari mulutnya. Lugas apa adanya dan tidak dibuat-buat. Jadi segala ucapan dan tindakan beliau adalah buah dari hati yang paling dalam. Kejujuran itu membawa Pangeran Diponegoro menjadi orang yang tegas “tanpa tedeng aling-aling” alias tidak ditutup tutupi. Beliau menjadi sosok yang tegas tidak pada area abu-abu. Di mata beliau hanya ada hitam dan putih. Hitam adalah harus dilawan dan putih harus dibela, siapapun yang berada di fihak  hitam dan siapapun yang berada di fihak putih.
      Ketegasan yang beliau miliki membuat beliau menjadi sosok yang pemberani karena tidak ada beban apapun dalam melaksanakan perjuangan. Beliau berani melakukan apapun berdasar kejujuran dan ketegasan semata-mata untuk membela kepentingan rakyat, bukan kepentingan titipan yang menguntungkan pribadi ataupun golongan. Beliau juga berani berkorban, berani mengambil resiko termasuk mengorbankan harta benda dan nyawanya.
      Ketiga sifat yaitu jujur, tegas dan berani itu membawa Pangeran Diponegoro menjadi sosok yang sangat bijaksana. Beliau faham kapan harus memulai dan faham kapan harus mengakhiri. Kondisi fisik yang memang sudah lemah, kondisi pasukan yang sudah jauh berkurang membuat beliau sadar bahwa perang yang sedang berlangsung ternyata adalah perang melawan bangsanya sendiri. Begitu banyak korban di pihak pasukan Belanda, tetapi mereka itu tetap orang-orang pribumi yang tenaganya dimanfaatkan oleh pihak Kraton dan Belanda. Dan kebijaksanaan itu beliau tunjukkan dalam ruang penangkapan. Dalam waktu singkat dengan hanya jarak satu langkah, beliau bisa saja menusuk De Kock dengan keris yang terselip di pinggangnya, tetapi apabila itu dia lakukan, maka tiga orang putra, pengikut setia dan para prajurit yang semuanya tidak bersenjata pasti akan menjadi korban dendam kemarahan penjajah.  Maka dengan keikhlasan yang dalam beliau berserah diri kepada Allah dan mengakhiri perang panjang yang melehkan walau dengan rasa malu pada diri sendiri.
      Sikap keteladanan Pangeran Diponegoro juga ditunjukkan ketika sebanyak tiga kali beliau menolak didudukan sebagai Sultan. Tawaran itu datang dari HB ke II kakeknya, dari penjajah Inggris dan dari ayahnya sendiri HB ke III. Beliau menolak dengan alasan karena merasa tidak memiliki hak untuk bertahta sebagai Sultan karena bukan terlahir dari rahim permaisuri. Beliau mengatakan “Apalah artinya kedudukan dan harta, sebab apabila Allah menghendaki, tak sampai 100 hari semuanya akan hilang. Dan apabila aku terima tawaran itu, maka aku sedang melanggar adat, karena menurut adat yang bisa duduk sebagai raja adalah anak permaisuri.”
      Alangkah bagusnya teladan yang beliau berikan kepada kita semua. Pangeran Diponegoro telah mendapatkan penilaian yang bagus dari kakenya, dari pemerintah penjajah Inggris dan dari ayahnya sendiri. Mereka menilai Pangeran Diponegoro layak dan memenuhi syarat kemampuan dan syarat spiritual untuk duduk sebagai sultan. Tetapi pangeran Diponegoro tidak pernah memiliki ambisi itu. Coba bandingkan dengan para pemimpin yang akhirnya mengakhiri karirnya di balik jeruji penjara di era sekarang ini. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki syarat moral sebagai seorang pemimpin tetapi sangat berambisi untuk menduduki sebuah jabatan. Sungguh ironi dan tidak pernah berkaca kepada perjuangan para pahlawan.
      230 tahun peringatan hari lahir Diponegoro telah kami laksanakan pada 11 November 2015 di Tegalrejo Yogyakarta dengan tema GELORA NASIONALISME DALAM NILAI-NILAI SPIRITUAL. Kami yakin tema itu akan sangat bersinergi dengan acara hari ini utnuk terus menggelorakan semangat Nasionalisme yang berlandaskan pada moral agar generasi yang akan datang memiliki kebanggan telah terlahir dan tumbuh di sebuah negara yang bermoral. Dengan gelora Nasionalisme dan nilai-nilai spiritual maka akan muncul rasa cinta pada bangsa, rasa mau memiliki, rasa bersedia membela dan rasa bersedia berkorban untuk kepentingan bangsa. Bela negara tidak identik dengan mengangkat senjata, tetapi justru yang paling hakiki adalah bela negara dengan rasa memiliki, membela, dan mau berkorban.
      Puisi dari alam para pahlawan
      Kami telah tiada lagi di muka bumi Nusantara
      Dan jasad-jasad kami telah hancur terkubur di dalamnya
      Tetesan darah dan keringat kami telah kering
      Dan kini udara kebebasan telah engkau nikmati
      Masa lalu adalah milik kami
      Jaman lalu adalah perjuangan kami
      Tetapi kini, setiap detik adalah milikmu generasi muda
      Teteskan keringat tapi jangan pernah engkau tumpahkan darah
      Perjuanganmu kini adalah harga diri sebagai sebuah bangsa
      Perjuanganmu kini adalah harga diri sebagai manusia
      Perjuanganmu kini adalah citra dari sebuah hati
      Perjuanganmu kini adalah keluhuran budi
      Aku serahkan warisan sebuah negeri bernama Indonesia
      Dengan tanah yang luas nan subur dan indah
      Disekitarnya lautan membentang sangatlah luas
      Dengan ikan-ikan yang siap engkau tadah
      Gali dan ambillah tanah warisan dari kami
      Tanam dan taburkan semua benih di atasnya
      Dan gunakan hasilnya untuk kebesaran bangsa
      Lalu wariskan kebesaran bangsa itu untuk generasi nanti

      Roni Sodewo
      17 Agustus 2007
      Terima kasih abadilah semangat Diponegoro jayalah Mahasiswa NU UNDIP, Jayalah Universitas Diponegoro. Tunjukkan pada dunia bahwa nama besar yang melekat di kampus ini akan melahirkan keturunan-keturunan idiologi Pangeran Diponegoro.



      KMNU UNDIP

      Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Diponegoro

      Website: KMNU UNDIP

      • Google Comments
      • Facebook Comments

      0 comments:

      Post a Comment

      Item Reviewed: Materi Seminar Nasional KMNU UNDIP Rating: 5 Reviewed By: Administrator